Islam menghargai kebhinekaan dan kemajemukan. Islam lahir dan bertumbuh dalam lingkungan yang sangat heterogen, bukan dalam sebuah masyarakat senyap yang homogen.
Kini, ada arus balik di AS yang anti-Islam. Tindakan kampanye pembakaran Al-Quran dari kelompok yang menamakan dirinya `Dove World Outreach Center` dibawah pimpinan Pastor Senior Sylvia Jones yang berkantor di Florida, Amerika Serikat, menuai kecaman dunia. Termasuk kecaman dari Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) dan Forum Lintas Agama.
Kepala Biro Penelitian dan Komunikasi PGI, Pendeta Henry Lokra di Jakarta, Rabu (4/8/10), menyatakan, "Dalam tindakan itu mereka mengatasnamakan kelompok agama, terutama membawa agama kristen, padahal hal itu tidak benar. Kristen mengajarkan cinta kasih dan tidak provokatif."
Kampanye membakar Al-Quran muncul di halaman situs jejaring sosial Facebook sebagai bentuk ajakan kepada warga dunia dalam peringatan sembilan tahun tragedi WTC pada 9 November mendatang.
Dalam kaitan ini, wajar jika Ketua Laskar Empati Pembela Bangsa (LEPAS) Egi Sudjana yang berdemo bersama Gerakan Peduli Pluralisme, merasa geram dan meminta pemerintah Indonesia untuk cepat melakukan tindakan.
Para aktivis mendesak Menteri Luar Negeri harus melobi PBB agar memberi teguran kepada Pemerintah Amerika Serikat dan mendesak Washington menangkap pastor yang menyebarkan gerakan provokataif tersebut.
Kecamanan terhadap pembakaran Al-Quran juga datang dari Parisada Hindu Dharma Indonesia, Matakin, Wahid Institute, Ma'arif Institute, Gamki, PP GMKI, beserta ormas dan forum agama lainnya.
Bagaimanapun, berita mengejutkan ini berasal dari Amerika Serikat. Sebuah gereja bernama Dove World Outreach Center , yang berpusat di Gainesville , Amerika Serikat menyatakan diri sebagai tuan rumah “Hari Pembakaran Alquran Internasional”.
Acara itu dilangsungkan dalam rangka memperingati 9 tahun tragedi serangan 11 September 2001 terhadap Menara Kembar di New York. Demikian berita yang disebarluaskan melalui situs jejaring facebook. Mereka juga mengundang semua umat Kristen di seluruh dunia untuk ikut serta (tentu saja di tempatnya masing-masing) melakukan hal yang sama.
Berita ini mengejutkan sebab perbuatan membakar-bakar buku dan yang sejenisnya, mestinya telah menjadi masa lampau. Di dalam abad-abad pertengahan di Eropa, memang merupakan kebiasaan untuk membakar buku-buku dan atau tulisan-tulisan yang dianggap berbahaya dan tidak sejalan dengan apa yang lazim diterima di dalam masyarakat tersebut.
Sesungguhnya, membakar buku dan sejenisnya, adalah tindakan yang tidak bisa diterima lagi di dunia modern dewasa ini. Lebih-lebih ketika kemungkinan melakukan argumentasi terbuka seluas-luasnya.
Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Andreas Ayewangoe menilai, perbuatan itu lebih tidak beradab lagi, sebab yang mau dibakar adalah Kitab Suci, yang merupakan sumber iman dan diyakini oleh sepertiga umat manusia di muka bumi ini.
"Sepertiga umat manusia ini menggantungkan seluruh iman dan kepercayaannya terhadap Kitab Suci ini, yang sekaligus juga diyakini sebagai sumber bagi perkembangan peradaban kemanusiaan. Oleh karena itu, kita mengecam maksud dan tindakan seperti itu, dan memandangnya sebagai tidak beradab."
Menurut Andreas, tindakan membakar Alquran itu dicanangkan tidak lain sebagai salah satu ungkapan stereotype terhadap Islam, yang dalam pandangan mereka adalah asal-usul dan biang keladi kejahatan dan terorisme.
Memang sejak 11 September 2001 itu kecurigaan terhadap (penganut) Islam menjadi makin tinggi.
Dunia dan kita semua harus mengecam tindakan pembakaran Al Qur’an di Amerika Serikat itu. Tetapi sekaligus juga dunia dan kita mesti menyerukan agar umat manusia, termasuk kita di Indonesia tidak terjebak dalam perbuatan-perbuatan yang justru tidak memperlihatkan sikap keadaban. Kita, umat Islam, Kristiani,Hindhu,Budha dan Konghucu serta kepercayaan lain, harus menegakkan toleransi dan menghargai pluralitas. [nic]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar